Senin, 10 Maret 2014

CARA MENGGANTI TULISAN POSTING BARU, BERANDA, POSTING LAMA MENJADI GAMBAR KEREN

cara menggganti tulisan posting baru, home, posting lama dengan gambar


 
Hai sobat blogger, kali ini saya dapat ilmu baru lagi nih. Seperti yang anda tahu semua blog pasti memiliki tulisan posting baru, beranda, dan posting lama atau dalam bahasa inggris, itu sudah wajar dimiliki oleh semua blog kecuali blog untuk bisnis, mungkin anda sangat bosan bukan?? melihat tulisan tersebut, dan tidak ada unik-uniknya, hanya tulisan berarah ke suatu tempat atau yang biasa disebut dengan kata "link" , mungkin anda ingin mengganti tulisan tersebut dengan gambar atau semacamnya, semuanya ada di sini, saya membuat cara ini di blog saya agar semua blogger mengetahui cara ini, cara memasangnya pun sangat mudah, hanya perlu sedikit mengganti kode html, mungkin jika anda blogger pemula akan sangat kebingungan, karena itu saya membuat cara ini dengan gambar, gambar hanya untuk mempermudah para blogger pemula untuk lebih jelas, dan widget ini pun hanya untuk memudahkan orang yang buta huruf agar memahaminya, walaupun tidak semuanya bergambar.
Nah sudah jelas kan penjelasan di atas, sekarang kita akan membahas cara memasangnya.
Ikuti langkah-langkah di bawah ini:
1. Masuk ke Dasbor
2. Klik Template
3. Klik Edit HTML
4. Masukkan kode di bawah ini :
  • Mengganti tulisan posting baru
1. Cari kode di bawah ini
<data:newerPageTitle/>
2. Hapus dan ganti dengan
<img src='http://i643.photobucket.com/albums/uu155/miskahiper/newer.png'/>
  • Mengganti tulisan beranda (home)
1. Cari kode di bawah ini
<data:homeMsg/>
2. Hapus dan ganti dengan
<img src='http://i643.photobucket.com/albums/uu155/miskahiper/home.png'/>
  • Mengganti tulisan posting lama
1. Cari kode di bawah ini
<data:olderPageTitle/>
2. Hapus dan ganti dengan
<img src='http://i643.photobucket.com/albums/uu155/miskahiper/older.png'/>

.:Selesai:.
NB: 
  • Bagi yang menemukan 2 (dua) kode yang sama, hapus dan ganti kedua-duanya.
  • Anda bisa mengganti kode yang berwarna coklat menjadi url gambar anda

Minggu, 09 Maret 2014

KETIKA AMALAN BERCAMPUR RIYA DAN KEINGINAN DUNIA

Amalan Yang Tercampur Riya :
  1. Jika riya ada dalam setiap ibadah, maka itu hanya ada pada orang munafik dan orang kafir.
  2. Jika ibadah dari awalnya tidak ikhlas, maka ibadahnya tidak sah dan tidak diterima.
  3. Niat awal dalam ibadahnya ikhlas, namun dipertengahan ia tujukan ibadahnya pada makhluk, maka pada saat ini ibadahnya juga batal.
  4. Niat awal dalam ibadahnya ikhlas, namun di pertengahan ia tambahkan dari amalan awalnya tadi selain kepada Allah. Misalnya : Dengan ia perpanjang bacaan Al-qur'annya dari biasanya karena ada temannya, maka tambahannya ini yang dinilai batal. Namun, niat awalnya tetap ada dan tidak batal. Inilah amalan yang tercampur riya.
  5. Jika niat awalnya sudah ikhlas, namun setelah ia lakukan ibadah muncul pujian dari orang lain tanpa ia cari-cari, maka ini adalah kabar gembira berupa kebaikan yang disegerakan bagi orang beriman. (Penjelasan Syaikh Sholih Alu Syaikh dalam Syarh Arba'in An Nabawiyah, hadits pertama)
Beramal Akhirat Untuk Mendapatkan Dunia

Niat seseorang ketika beramal ada beberapa macam, yaitu :
  1. Jika niatnya adalah murni untuk mendapatklan dunia ketika dia beramal dan sama sekali tidak punya keinginan mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat, maka orang semacam ini di akhirat tidak akan mendapatkan satu bagian nikmat pun. Perlu diketahui pula bahwa amalan semacam ini tidaklah muncul dari seorang mukmin. Orang mukmin walaupun lemah imannya, dia pasti selalu mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat.
  2. Jika niat seseorang adalah untuk mengharap wajah Allah dan untuk mendapatkan dunia sekaligus, entah niatnya untuk kedua-duanya sama atau mendekati, maka semacam ini akan mengurangi tauhid dan keikhlasannya. Amalannya dinilai memiliki kekurangan karena keikhlasannya tidak sempurna.
  3. Adapun jika seseorang telah beramal dengan ikhlas, hanya ingin mengharap wajah Allah semata, akan tetapi dibalik itu dia mendapatkan upah atau hasil yang dia ambil untuk membantunya dalam beramal (semacam mujahid yang berjihad lalu mendapatkan harta rampasan perang, para pengajar dan pekerja yang menyokong agama yang mendapatkan upah dari negara setiap bulannya), maka tidak mengapa mengambil upah tersebut. Hal ini juga tidak mengurangi keimanan dan ketauhidannya, karena semula dia tidak beramal untuk mendapatkan dunia. sejak awal dia sudah berniat untuk beramal sholeh dan menyokong agama ini, sedangkan upah yang dia dapatkan adalah di balik itu semua yang nantinya akan menolong dia dalam beramal dan beragama. (Al Qoulus Sadiid, 132-133)
Adapun amalan yang seseorang lakukan untuk mendapatkan balasan dunia, ada 2 (dua) macam, yaitu:
  1. Amalan yang tidak disebutkan didalamnya balasan dunia. Namun seseorang melakukan amalan tersebut untuk mengharapkan balasan dunia, maka semacam ini tidak diperbolehkan bahkan termasuk kesyirikan.
  2. Amalan yang disebutkan di dalamnya balasan dunia. Contohnya adalah silaturrahmi dan berbakti kepada orang tua.
Semisal silaturrahmi, Rosululloh bersabda, "Barangsiapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturrahim". [HR. Bukhari dan Muslim]
 Jika seseorang melakukan amalan seperti ini, namun hanya ingin mengharapkan balasan dunia saja  dan tidak mengharapkan balasan akhirat, maka orang yang melakukannya telah terjatuh dalam kesyirikan. Namun, jika dia melakukannya tetap mengharapkan balasan akhirat dan dunia sekaligus, juga dia melakukannya dengan ikhlas, maka ini tidak mengapa dan balasan dunia adalah sebagai tambahan nikmat baginya karena syari'at telah menunjukkan adanya balasan dunia dalam amalan ini. (Syeikh Sholih Alu Syaikh, Loc. Cit)

Sebenarnya jika seseorang ikhlas dalam beramal tanpa mengharap-harap dunia, maka dunia akan datang dengan sendirinya. Semoga sabda nabi Muhammad ini bisa menjadi renungan bagi kita semua, "Barang siapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barang siapa yang niatnya untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya". [HR. Tirmidzi]

Bagaimana Cara Agar Ikhlas
  1. Mendalami ilmu ikhlas dan riya.
  2. Mengenal nama dan sifat Allah dan lebih mendalami tauhid.
  3. Selalu memohon kepada Allah agar dimudahkan untuk ikhlas dalam setiap amalan.
  4. Berpikir bahwa dunia ini akan fana.
  5. Takut mati dalam keadaan Su'ul khotimah (akhir yang jelek) dan takut terhadap siksa kubur.
  6. Memikirkan kenikmatan surga bagi orang-orang yang berbuat ikhlas.
  7. Mengingat siksa neraka bagi orang-orang yang berbuat riya.
  8. Takut akan terhapusnya amalan karena riya.
  9. Semangat dalam menyembunyikan amalan, rutin dalam melakukan sholat malam dan puasa sunnah.
  10. Meninggalkan rasa tamak pada apa yang ada pada manusia.
  11. Memiliki waktu untuk mengasingkan diri dan menyendiri untuk beramal.
  12. Bersahabat dengan orang-orang sholih yang selalu ikhlas dalam amalannya.
  13. Membaca kisah-kisah orang yang berbuat ikhlas.
  14. Sering muhasabah atau intropeksi diri.
  15. Mengingat bahwa setan tidak akan mengganggu orang-orang yang berusaha untuk ikhlas. (Ta'thirul Anfas, 451-480) 
Sumber : Media bil-Haq

Jumat, 07 Maret 2014

JENIS-JENIS PERKATAAN YANG BAIK

JENIS-JENIS PERKATAAN YANG BAIK dalam AL QURAN:
QAULAN MA’RUFAN (QS An-Nisaa: 5)
QAULAN SADIDAN (QS. An-Nisaa: 9, Al-Ahzab:70)
QAULAN LAYYINAN (QS. Thaahaa: 44)
QAULAN MAYSURAN (QS. Al-Israa: 28)

(Ensiklopedia Leadership dan Management MUHAMMAD SAW, Volume 1, hal 231)
QAULAN BALIGHAN (QS. An-Nisaa: 63)
QAULAN KARIMAN  (QS. Al-Israa: 23)Al-Quran adalah al-Qaul. Dengan memperhatikan kata qaul dalam konteks perintah (amr), kita dapat menyimpulkan enam jenis perkataan yang baik: qaulan ma’rufan (QS An-Nisaa: 5), qaulan sadidan (QS. An-Nisaa: 9, Al-Ahzab:70). Qaulan balighan (QS. An-Nisaa: 63),  qaulan kariman (QS. Al-Israa: 23), qaulan layyinan (QS. Thaahaa: 44), dan qaulan maysuran (QS. Al-Israa: 28



1. QAULAN MA’RUFAN (PERKATAAN YANG BAIK)
Qaulan Ma'rifan adalah ungkapan yang jujur dan mendidik serta dapat menjadi teladan di tengah masyarakat. Kata qaulan ma’rufan disebutkan Allah dalam Al-Quran sebanyak lima kali. Pertama, berkenaan dengan pemeliharaan harta anak yatim. Kedua, berkenaan dengan perkataan terhadap anak yatim dan orang miskin.
Ketiga, berkenaan dengan harta yang diinfakkan atau disedekahkan kepada orang lain. Keempat, berkenaan dengan ketentuan-ketentuan Allah terhadap istri Nabi. Kelima, berkenaan dengan soal pinangan terhadap seorang wanita.
Kata ma’rufan dari kelima ayat tersebut, berbentuk isim maf’ul dari kata ‘arafa, bersinonim dengan kata al-Khair atau al-Ihsan yang berarti baik.

2. QAULAN SADIDAN (PERKATAAN YANG BENAR)
Qaulan Sadidan adalah konsep perkataan yang benar, tegas, jujur, lurus, to the pint, tidak berbelit-belit dan tidak bertele-tele. Kata qaulan sadidan disebut dua kali dalam Al-Quran. Pertama, Allah menyuruh manusia menyampaikan qaulan sadidan dalam urusan anak yatim dan keturunan. Kedua, Allah memerintahkan qaulan sadidan sesudah takwa. 
Alferd Korzybski, peletak dasar teori general semantics menyatakan bahwa penyakit jiwa , baik individual maupun sosial, timbul karena penggunaan bahasa yang tidak benar. Ada beberapa cara menutup kebenaran dengan komunikasi. Pertama, menggunakan kata-kata yang sangat abstark, ambigu, atau menimbulkan penafsiran yang sangat berlainan apabila kita tidak setuju dengan pandangan kawan kita.
Kedua, menciptakan istilah yang diberi makna lain berupa eufimisme atau pemutarbalikan makna terjadi bila kata-kata yang digunakan sudah diberi makna yang sama sekali bertentangan dengan makna yang lazim.

3.  QAULAN LAYYINAN (PERKATAAN YANG LEMBUT)
Konsep Qaulan Layyinan  dilatarbelakangi kisah Musa AS dan Harun AS yang diutus untuk menghadapi Firaun dan mengajaknya beriman kepadaAllah SWT. Kata qaulan layyinan hanya satu kali disebutkan dalam Al-Quran (QS. Thaahaa: 44)
Nabi Muhammad saw mencotohkan kepada kita bahwa beliau selalu berkata lemah lembut kepada siapa pun, baik kepada keluarganya, kepada kaum muslimin yang telah mengikuti nabi, maupun kepada manusia yang belum beriman. Qaulan layyinan sangat efektif untuk mencapai tujuan dan mendapatkan feedback yang positif.

4. QAULAN MAYSURAN (PERKATAAN YANG PANTAS)
Jenis perkataan ini lebih merupakan perkataan yang mengandung empati kepada orang yang diajak bicara. Kata qaulan maysuran hanya satu kali disebutkan dalam Al-Quran, QS. Al-Israa’: 28. Berdasarkan sebab-sebab turunnya (ashab al-nuzulnya) ayat tersebut, Allah memberikan pendidikan kepada nabi Muhammad saw untuk menunjukkan sikap yang arif dan bijaksana dalam menghadapi keluarga dekat, orang miskin dan musafir.
Secara etimologis, kata maysuran berasal dari kata yasara yang artinya mudah atau gampang (Al-Munawir,1997: 158). Ketika kata maysuran digabungkan dengan kata qaulan menjadi qaulan maysuran yang artinya berkata dengan mudah atau gampang. Berkata dengan mudah maksudnya adalah kata-kata yang digunakan mudah dicerna, dimengerti, dan dipahami oleh lawan bicara.

5. QAULAN BALIGHAN (PERKATAAN YANG MEMBEKAS PADA  JIWA)
Kata qaulan balighan dalam Al-Quran disebutkan dalam surat Al-Nisaa’ ayat 63. Kata baligh berarti fasih, jelas maknanya , terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki. Perkataan jenis ini lebih ditujukan agar kata-kata yang diucapkan masuk ke dalam jiwa lawan bicara. Perkataan yang disampaikan hendaknya memang berasal dari hati si pembicara. Karena sesuatu yang berasal dari hati akan masuk ke dalam hati pula. 

6. QAULAN KARIMAN (PERKATAAN YANG MEMULIAKAN)
Qaulan Kariman disampaikan dengan kata-kata yang penuh hormat, santun, serta tidak bermaksud menentang atau meremehkan lawan bicara. Kata qaulan kariman dalam Al-Quran disebutkan hanya satu kali, yaitu dalam surat Al-Israa’ ayat 23.
Substansi ayat tersebut, paling tidak mengandung dua hal, yakni: (1) berkenaan dengan tuntunan berakhlak kepada Allah, dan (2) berkenaan dengan tuntunan berakhlak kepada kedua orang tua. Menurut Hamka (1999: 63), dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa akhlak kepada Allah merupakan pokok etika sejati, sebab hanya Allah semata yang berjasa kepada kita, yang menganugerahi hidup kita, memberi rezeki.
Tuntunan akhlak kepada kedua orang tua, antara lain: keharusan berbakti kepada orang tua, dan mengurus orang tua di saat mereka sudah usia lanjut. Jika seorang anak mengikuti perintah Allah ini, ia akan selamat di dunia dan di akhirat.

PERKATAAN SIA-SIA

Sebuah hadits mengatakan : “Barang siapa banyak bicaranya maka banyaklah kesalahannya, dan orang yang banyak salahnya berarti banyak dosanya sehingga nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka.”
Hadits di atas menunjukkan bahwa banyak bicara itu akan menyebabkan kesalahan-kesalahan yang sebenarnya tidak kita sadari. Memang tidak ada salahnya kalau kita berbicara. Akan tetapi kalau berlebihan, itu termasuk yang tercela. Bisa jadi di dalam pembicaraan atau ucapan yang keluar dari mulut kita akan turut segala sesuatu yang tidak membawa manfaat sedangkan kita terus saja asyik dengan pembicaraan.